Itu bukan sebuah judul postingan ku yang baru, teman. Itu adalah judul novel pertama yang aku buat.
Seperti selayaknya penulis novel yang sesungguhnya, aku mau ngucapin terimakasih kepada :
Allah SWT
Yang dengan semua yang diberikan ke aku, aku bisa nulis novel ini
Ratna Manikam
Sahabat terbaik ku, yang percaya kalau suatu saat aku bisa menjadi penulis novel
dia yang menggugahku untuk menulis novel ini
dan aku percaya dia bisa membaca novel ini, meski dia tidak ada disini
Manik Retno
Yang selalu mensuport ku untuk segera menyelesaikan dan memposting novel ini
Thanks ya…
PROLOG
“Manda….. Agak cepet dong… Udah jam enam lebih sepuluh nih..” teriakan Dinda menggema di seluruh ruangan rumah. “Iya.. Iya tau.. Buru-buru banget sih..” Balas Manda, sambil berlari menuruni tangga, tangan kanan membawa sepotong roti dan tangan kiri sibuk menyisir rambutnya yang masih acak-acakan. Memang, khusus 2 minggu ini orang tua anak kembar Amanda – Adinda pergi keluar kota untuk sebuah urusan. Lebih tepatnya untuk mengurus sebuah proyek mall yang harus diselesaikan oleh ayah kedua anak kembar itu .
Sebagai seorang kontraktor yang super sibuk, memang ayah mereka sering pergi keluar kota untuk mengecek proyek atau sekedar menghadiri rapat-rapat penting dengan kliennya. Dan sebagai istri yang baik, ibu mereka tidak jarang ikut mendapingi sang ayah jika ayah mereka pergi lebih dari satu minggu. Seperti saat ini, mereka harus tinggal berdua di rumah selama 2 minggu kedepan.
Awalnya ibu mereka sempat menawarkan untuk pergi ke Bandung bersama selama 2 minggu ini.Toh selama 2 minggu ini, mereka juga tidak ada kelas efektif di sekolah. Hanya akan ada pekan remidi dan kelas meeting, karena ujian akhir semester 3 baru saja dilalui. Tapi, seperti yang bisa ditebak. Mereka berdua menolak ajakan tersebut. Lebih baik menghabiskan waktu dirumah dengan bertemu sahabat mereka, daripada ikut ke bandung dan menghabiskan waktu berdua saja tetapi seperti bercermin dengan diri sendiri.
Tinnn tinnn… !!!! Tiinn tinn… !!
“Iya iya…. Sabar dong…. ” ucap Manda sambil memakai sepatu converense nya. ” Pakek sepatu didalam mobil aja. Kurang 10 menit lagi, kita bakal telat nih ” ketus Dinda. Dengan langkah terjinjing-jinjing Manda masuk kedalam mobil. “Habis mandi susu ya mbak ?” oceh Dinda. ” Sebel deh, kalo kayak gini terus. Lagian mobil kamu kenapa sih ? Pokoknya aku nggak mau tau, entah mobil kamu udah selesai di perbaiki atau belum aku nggak mau besok kita barengan kayak gini !”. Manda tidak menjawab, dia masih sibuk dengan tali-tali sepatu yang belum dirangkainya.
<3
Si kembar mana sih ? Nggak biasanya dateng terlambat kayak gini. Jangan-jangan di jalan….. Nggak. Enggak.Merka pasti kejebak macet, atau kalau enggak ban mobil mereka bocor di tangah jalan.
Sejak bel sekolah berbunyi dan kelas-kelas mulai kosong ditinggalkan oleh penghuninya untuk berkumpul di lanpangan. Diva mondar-mandir di depan kelas. Sesekali dia mengintip ke arah coridor untuk memastikan sahabatnya datang sampai sekola.
Ya. Sejak awal SMP persahabatan diantara mereka terjalin. Dipertemukan di sebuah kelas khusus seni musik , menyebabkan mereka satu kelas sejak kelas satu sampai kelas tiga. Dan entah mengapa, seakan mereka ditakdirkan untuk selalu bersama, Kompak, ceria, dan tak terpisahkan. Mungkin itu yang bisa digambarkan dari tiga sahabat ini.
“Diva, Kamu nggak apel pagi? “
“Eh, Richi ! ” Diva terlalu panik, sehingga kalimat Richi yang tidak terlalu keras itu,membuatnya sedikit terkejut.
” Nih aku lagi…..”
“Nunggu si kembar pasti!” potong Richi.
“Iya nih, nggak biasanya mereka telat kayak gini “
“Udah Div.. Nggak usah negative thinking dulu. Bentar lagi juga pasti dateng “, sambil menepuk-nepuk pundak Diva.
“Divaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!” Suara yang nyaring dan hentakan sepatu yang cukup keras terdengar dari ujung koridor sekolah. Diva mengenal suara itu. Ya, suara orang yang dia tunggu-tunggu sejak tadi.
“Tuh kan, apa gue bilang. Yaudah noh sana sama kembaran-kembaran kamu. Aku ke lapangan dulu ya Div “
“Haha.. Iya Rich..”
“Kalian kemana aja ? Sekarang jam berapa?”
“Tuh, tanya aja sama yang buat masalah”
” Apasih.. Selalu deh aku yang..”
“Aduuhh udah deh, nggak ada waktu buat ribut. Mendingan kalian cepet taruh tas di kelas. Nggak mau kan kita jadi bahan tontonan murid sesekolah?” lerai Diva kepada kedua sabatnya.